Overjustification Effect

ketika hadiah justru bikin kita malas melakukan hobi

Overjustification Effect
I

Pernahkah kita mendengar sebuah kutipan manis yang bunyinya kira-kira begini: "Jadikan hobimu sebagai pekerjaan, maka kamu tidak akan merasa bekerja sehari pun seumur hidupmu." Terdengar sangat ideal, bukan? Saya yakin banyak dari teman-teman yang pernah tergiur dengan ide ini. Di era hustle culture seperti sekarang, rasanya ada tuntutan tak kasat mata untuk memonetisasi semua hal yang kita kuasai.

Awalnya, kita mungkin sangat gemar merajut, merakit gundam, menulis cerita fiksi, atau membuat desain grafis murni untuk bersenang-senang. Lalu, kita mulai menerima pesanan. Uang mulai masuk. Namun anehnya, setelah beberapa bulan, ada rasa berat yang muncul. Hobi yang dulu menjadi pelarian stres, sekarang justru menjadi sumber stres baru. Kita kehilangan gairah. Kita mulai menunda-nunda. Kita muak melakukan hal yang dulu kita cintai.

Kok bisa begitu? Logika dasar kita pasti protes. Seharusnya, hobi yang dibayar itu menghasilkan kebahagiaan ganda, bukan? Sayangnya, otak manusia bekerja dengan cara yang jauh lebih rumit, dan terkadang, sangat ironis.

II

Mari kita bedah sedikit keanehan ini bersama-sama. Dalam ilmu ekonomi klasik, manusia dianggap sebagai makhluk rasional yang akan selalu bergerak menuju insentif. Semakin besar hadiahnya, semakin besar usahanya. Titik.

Namun, para ahli psikologi mulai menyadari ada celah besar dalam teori ini. Mereka melihat fenomena di mana tambahan insentif justru merusak performa. Hal ini membawa kita pada pemahaman tentang dua jenis bahan bakar yang menggerakkan manusia: motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.

Motivasi intrinsik adalah dorongan dari dalam. Kita melakukan sesuatu murni karena kepuasan, rasa penasaran, atau kegembiraan. Tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang membayar. Sementara motivasi ekstrinsik adalah dorongan dari luar. Kita bergerak karena ada tenggat waktu, ancaman hukuman, atau iming-iming uang dan pujian.

Masalahnya mulai muncul ketika kedua bahan bakar ini dicampur. Apakah mencampur keduanya akan membuat mesin semangat kita melaju lebih kencang? Ataukah salah satu bahan bakar justru akan mensabotase bahan bakar lainnya?

III

Untuk menjawab misteri tersebut, mari kita putar waktu ke tahun 1973. Sekelompok psikolog bernama Mark Lepper, David Greene, dan Richard Nisbett melakukan sebuah eksperimen klasik yang sangat elegan. Subjek penelitian mereka bukanlah orang dewasa yang pusing dengan tagihan bulanan, melainkan anak-anak taman kanak-kanak.

Para peneliti mengamati anak-anak yang memiliki minat tinggi pada aktivitas menggambar. Anak-anak ini murni suka menggambar tanpa disuruh. Peneliti kemudian membagi mereka ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama dijanjikan hadiah berupa sertifikat berpita biru yang keren jika mereka mau menggambar. Kelompok kedua tidak dijanjikan apa-apa, namun setelah selesai menggambar, mereka tiba-tiba diberi sertifikat tersebut sebagai kejutan. Kelompok ketiga tidak dijanjikan apa-apa dan tidak diberi apa-apa.

Beberapa minggu kemudian, para peneliti kembali secara diam-diam. Mereka meletakkan kertas dan spidol di kelas, lalu mengamati kelompok mana yang secara sukarela akan menggambar di waktu bebas mereka. Kira-kira, kelompok mana yang paling malas menyentuh spidol?

IV

Jawabannya adalah kelompok pertama. Anak-anak yang sebelumnya secara eksplisit dijanjikan hadiah untuk menggambar, tiba-tiba kehilangan minat mereka pada aktivitas tersebut. Mereka menghabiskan waktu jauh lebih sedikit untuk menggambar dibandingkan sebelum eksperimen. Sementara itu, kelompok kedua dan ketiga tetap menggambar dengan antusias seperti biasa.

Di sinilah kita bertemu dengan sang pelaku utama: Overjustification Effect.

Ini adalah sebuah kondisi psikologis di mana hadiah eksternal justru menurunkan motivasi internal seseorang. Ketika anak-anak di kelompok pertama dijanjikan hadiah, otak mereka secara tidak sadar melakukan hitung-hitungan ulang. Otak mereka berkata, "Tunggu dulu. Kalau aku harus disogok pita biru untuk melakukan ini, berarti menggambar sebenarnya adalah pekerjaan berat, bukan permainan."

Hal yang sama persis terjadi pada hobi kita. Ketika hobi kita mulai diganjar dengan uang, deadline, atau likes di media sosial, otak kita menggeser letak motivasinya. Sistem dopamine di otak kita, yang tadinya meledak bahagia karena murni menikmati proses melukis atau menulis, sekarang dibajak oleh antisipasi terhadap imbalan uang. Kita tidak lagi fokus pada keseruan aktivitasnya, melainkan pada hasilnya.

Begitu uangnya tidak sepadan, atau klien-nya banyak merevisi, Overjustification Effect menendang masuk. Alasan internal kita untuk menikmati hobi tersebut sudah terlanjur hancur, digantikan oleh alasan eksternal yang melelahkan.

V

Memahami fakta ini seharusnya memberikan rasa lega bagi kita. Jika teman-teman pernah merasa bersalah karena tiba-tiba membenci hobi sendiri setelah mencoba memonetisasinya, berhentilah menyalahkan diri sendiri. Kita tidak malas. Kita tidak kehilangan bakat. Otak kita hanya sedang merespons perubahan jenis motivasi dengan sangat normal.

Tentu saja, tulisan ini bukan berarti melarang kita untuk mencari uang dari keahlian yang kita miliki. Banyak orang yang berhasil menyeimbangkannya. Namun, sains mengingatkan kita pada satu pelajaran penting tentang batasan.

Kita tidak perlu mengubah setiap hal menyenangkan dalam hidup kita menjadi sebuah mesin pencetak uang. Sangat wajar, dan bahkan sangat sehat secara mental, untuk memiliki ruang rahasia di mana kita melakukan sesuatu hanya untuk diri kita sendiri. Biarkanlah ada satu atau dua hobi yang murni menjadi tempat kita bermain. Tidak untuk dijual, tidak untuk dipamerkan, tidak untuk dijadikan konten. Murni karena kita mencintainya. Karena pada akhirnya, menjaga api kecil bernama motivasi intrinsik itu adalah salah satu bentuk empati terbaik yang bisa kita berikan untuk diri kita sendiri.